| Written by Donna, on 04-12-2007 06:08 |
| Views |
3930  |
|
|
|

Dear Friends..
Jakarta dan sekitarnya sepertinya sudah mau mendidih kepanasan. Apa yang menyebabkan itu semua? Berbagai pendapat yang aku dapatkan seperti "Ini sih kerjaan pawang hujan yang disewa pemerintah untuk proyek busway dan pembangunan mall" atau ada lagi "Ini tanda-tanda bahwa kiamat sudah dekat!".. Duh... Tapi kebanyakan mereka berkata ini adalah efek dari pemanasan global dan perubahan iklim dunia.
Salah satu penyebab pemanasan global adalah terganggunya keseimbangan alam karena ulah manusia yang menyebabkan gas karbon (CO2) semakin tebal menyelimuti bumi, sehingga mengakibatkan efek rumah kaca. Efek ini disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya.

Menurut perkiraan, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu bumi rata-rata 1-5°C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5-4,5°C sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer, maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi diserap atmosfer. Hal ini akan mengakibatkan suhu permukaan bumi menjadi meningkat.
Bumi secara konstan menerima energi, kebanyakan dari sinar matahari tetapi sebagian juga diperoleh dari bumi itu sendiri, yakni melalui energi yang dibebaskan dari proses radioaktif (Holum, 1998:237). Sinar tampak dan sinar ultraviolet yang dipancarkan dari matahari. Radiasi sinar tersebut sebagian dipantulkan oleh atmosfer dan sebagian sampai di permukaan bumi. Di permukaan bumi sebagian radiasi sinar tersebut ada yang dipantulkan dan ada yang diserap oleh permukaan bumi dan menghangatkannya.
Ramalan
Sebuah pertemuan tingkat dunia yang diadakan di Bali pada tanggal 3-14 Desember 2007 membawa ramalan yang amat menakutkan, beberapa ahli mengatakan banyak pulau di Indonesia akan tenggelam ditelan laut apabila pemimpin dunia gagal dalam menemukan cara untuk mengatasi peningkatan debit air laut karena dampak dari pemanasan global yaitu mengembangnya air laut karena peningkatan suhu secara permanen. Bahkan secara ekstrim para Doomsters meramalkan pada tahun 2035 Bandar Udara Soekarno-Hatta akan tenggelam dan tanah Jakarta akan tersisa sedikit saja pada tahun 2080 (sekitar 35-50%).
Pencegahan
Presiden SBY pada peringatan Hari Lingkungan Hidup, Juni 2007 lalu, mengungkapkan kekhawatiran terhadap hilangnya banyak pulau di Indonesia karena dampak pemanasan global. Presiden mengajak semua pihak memikirkan bagaimana meminimalisasi dampak tersebut, di samping tetap memikirkan sumber perubahannya. Presiden Yudhoyono menyatakan tidak mungkin berdiam diri terus-menerus melihat dampak dari pemanasan global. "Prinsip proaktif kita perlukan dalam upaya memperkecil dampak yang akan terjadi," kata Presiden. Bagi Indonesia yang adalah negara kepulauan, dampak pemanasan global pasti sangat serius. Pulau-pulau kecil yang ada, bisa tenggelam, di samping berdampak pada petani yang juga merupakan bagian terbesar dari pekerjaan penduduk Indonesia. Belum lagi dampak sosial yang pasti akan ditimbulkan.
Pencegahan pertama dapat dilakukan dengan penanaman Bakau (mangrove) di pesisir pantai yang dapat mencegah serangan debit air laut yang meningkat, serta dapat memecah ombak dan menjaga tanah serta karang dan koral dari kerusakan.
Kedua, dengan cara yang amat mahal yaitu membangun benteng-benteng tembok yang kokoh di pesisir pantai seperti yang telah dilakukan Amerika Serikat dalam memecah badai tropis yang menyerang pantai mereka.
Ketiga mungkin sebaiknya memindahkan ibukota negara Indonesia ke tempat yang lebih tinggi di daerah bukit yang berjarak sekitar 180 km arah timur Jakarta..yaitu.. Bandung... hahahaha... gak deh, gak setuju banget, jangan sampai Bandung seperti Jakarta..panas..
|