| Written by Cipta Himawan, on 11-11-2007 14:26 |
| Views |
1167  |
|
|
|

Dokter, Insinyur, dan bankir boleh disebut sebagai profesi elit di Indonesia. Profesi OK-ness alias profesi yang dinominasikan oleh calon mertua. Ketika bertutur sebuah profesi yang berjudul perancang grafis atau sering disebut juga desainer grafis, tidak heran bila sambutannya simpang siur. Oh! anda percetakan?, Bukan!, Hmm...ahli lukis potret?, Bukan juga!, Perancang busana? , Ngawur!, Lantas fotografer?, Weleh....
Itulah secuil gambaran tentang eksistensi disiplin desain grafis dan profesinya di Indonesia. Bila menilik lebih jauh, sesungguhnya profesi ini telah malang melintang di negeri kita hampir selama tiga dekade. Sungguh, sangatlah langka exposure tentang peran dan karya desain grafis di Indonesia. Kasihan atau memang begitu kodratnya?
Ibarat kaos kaki lobang yang tetap dipakai, dibutuhkan tapi kurang mendapat perhatian, itulah gambaran profesi Desainer Grafis di Indonesia saat ini. Bila dilihat dari peranannya maka tidak berlebihan bila profesi yang dalam wilayah Desain Komunikasi Visual ini dikatakan sebagai ujung tombak pemasaran, posisi yang sebenarnya sangat vital karena merupakan hierarki terdepan yang langsung berhadapan dengan konsumen. Bahkan menurut penelitian para ahli, dari seluruh kegiatan penginderaan manusia, 80 % adalah penginderaan yang dilakukan melalui penglihatan atau kasat mata, yang berarti sebesar itu pulalah peranan desain grafis dalam komunikasi pemasaran.
Dewasa ini, desain grafis diyakini sebagai sebuah karya seni rupa yang padat teknologi, mempunyai dampak sangat komprehensif kepada masyarakat sebagai khalayak sasaran. Mengapa? Karena keberadaannya mampu menginformasikan produk baru kepada audiens. Ia mempunyai karisma kepada konsumen untuk diajak membeli dan menggunakan barang dan jasa yang ditawarkan kepadanya. Ia juga piawai merangsang khalayak untuk diajak membeli dan menggunakan barang dan jasa yang ditawarkan kepadanya.
Ia juga piawai merangsang khalayak untuk berpikir perihal sesuatu yang selama ini tidak pernah terpikirkan olehnya. Dengan demikian, ketika kita mengenal dan menggeluti desain grafis, maka kita seolah-olah menjadi malaikat pewarta kabar gembira kepada segenap manusia dalam bentuk komunikasi visual yang mencakup segala bidang kehidupan manusia ,baik dengan target komersial maupun tujuan sosial. Oleh karena itu, mitos desain grafis dan orang yang menggeluti profesi itu tidak lagi semata-mata hanya seseorang yang jagoan "menyetir" komputer grafis dengan segala program-programnya dan piawai membuat berbagai ilustrasi menggunakan rapido, pensil warna, cat poster, dan airbrush.
Tetapi, yang lebih hakiki, ia seorang perancang, pencetus dan penemu ide pertama.
|