Skip to content
  • Wanita Cantik, Perempuan Cantik dan Cewek Cantik
  • Wanita Cantik, Perempuan Cantik dan Cewek Cantik
  • Wanita Cantik, Perempuan Cantik dan Cewek Cantik
  • Wanita Cantik, Perempuan Cantik dan Cewek Cantik
  • Wanita Cantik, Perempuan Cantik dan Cewek Cantik
donnaYahoo! stats:
You are here: Beranda Cantik arrow Beranda Cantik arrow Kado Cantik arrow tips dan info arrow Mengenal ESP: Extra Sensory Perception
Mengenal ESP: Extra Sensory Perception
Ditulis Oleh Achmad Ridwan Sudirdjo C.Ht   
Minggu, 07 September 2008

ESP secara umum disebut “indera keenam”. ESP merupakan informasi indera yang diterima seseorang yang datang di luar kelima indera biasa (penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan sentuhan). Ia dapat memberi seseorang dengan informasi saat ini, masa lalu dan masa datang, yang seakan-akan berasal dari realitas kedua atau alternatifnya.

 Sejarah:

Istilah ESP dipergunakan pertama kali pada tahun 1870 oleh Sir Richard Burton. Seorang peneliti Perancis, Dr. Paul Joire, pada tahun 1892 menggunakan istilah ESP untuk menerangkan kemampuan seseorang yang telah dihinotis atau dalam keadaan kesurupan/tidak sadar dalam mengindera tanpa mempergunakan indera biasa.
 
Tetapi, fenomena kegiatan ESP telah diindikasikan jauh sebelumnya, beberapa bahkan mengatakan dalam abad-abad awal. Walaupun tidak terdapat bukti jelas mengenai fenomena ini, hal ini telah menarik perhatian dan antusiasme selama berabad-abad.
 
Pada tahun 1920-an seorang ophthalmologist (dokter mata) dari Munich, Dr. Rudolph Tischner, menggunakan istilah ESP untuk menerangkan penginderaan external. Kemudian pada tahun 1930-an, seorang Parapsikolog Amerika, J.B. Rhine, mempopulerkan istilah ESP yang memasukkan fenomena psychic/paranormal yang serupa dengan fungsi indera.
 
Studi secara sistematis pertama kali dilakukan pada tahun 1882, ketika the Society for Psychical Research dibentuk di London. Journal Society ini, Proceedings and Journal, dipublikasikan serta berbagai publikasi lainnya di USA dan Belanda. Tidak lama berbagai negara lainnya melaporkan penemuan serupa.
 
Namun demikian, studi-studi awal tersebut jarang yang merupakan eksperimen, Studi itu umumnya merupakan kejadian-kejadian spontan yang dapat dilaporkan. Banyak individual yang dipelajari dalam studi tersebut merupakan sensitive atau paranormal berdasarkan pengakuan sendiri. Peneliti yang melakukan pengujian terdiri dari pengacara. Subyek penelitian dihujani pertanyaan, dan yang dapat menjawab terbaik dianggap kredible.
 

Eksperimen Rhine:

Eksperimen ESP “tebak kartu” pertama kali dilakukan oleh Rhine di Universitas Duke pada tahun 1930. Kartu yang dipergunakan terdiri lima desain, sekarang disebut symbol ESP, bujur sangkar, lingkaran, tanda tambah, bintang segilima dan satu set garis bergelombang. Simbol tersebut dicetak tunggal, tinta hitam, di kartu yang serupa dengan kartu permainan.
 
Dalam eksperimen Rhine klasik, subyek berusaha untuk menebak atau menyebut urutan lima symbol itu yang telah di atur secara random dalam susunan 25 kartu ESP. Kemungkinan penyebutan kartu secara tepat adalah satu dibanding lima. Dengan demikian, sangat dimungkinkan untuk mengkalkulasi seberapa sering suatu hasil dapat terjadi secara kebetulan dalam suatu penyebutan. Rhine berargumen bahwa ketika seorang subyek penelitan mendapat hasil tinggi yang dapat diharapkan oleh kemungkinan statistic, hal itu terjadi hanya pada satu dalam seribu usaha, atau satu dalam sejuta, hasil ini menunjukan “ekstra kemungkinan”, atau ESP.
 
Pada saat ini game computer makin banyak digunakan untuk menguji ESP. Komputer deprogram sehingga suatu seri yang random menentukan target, dan subyek berusaha untuk menebak data yang dikeluarkan computer.
 

ESP Secara Umum:

Dalam buku New Frontiers of the Mind (1937) Rhine mengatakan bahwa eksperimen ESP telah merubah pandangan masyarakat mengenai cara otak mengindera informasi. Manusia dalam sejarah menganggap bahwa otak manusia menerima informasi melalui panca indra, dan oleh sebab itu, otak didasarkan pada hukum dunia mekanika.
 
Pengujian laboratorium yang ditujukan untuk menguji keberadaan ESP, menemukan mekanisme fisikal bagaimana otak bekerja. Pikiran disejajarkan dengan otak, dan ilmuwan meneliti untuk menemukan bagaimana ESP ter-register di otak/pikiran.
 
Bagaimanapun, pembuktian makin banyak menunjukkan bahwa ESP itu memang ada, tetapi tidak dapat dijelaskan atau dikuantifikasi oleh hukum fisik, dan lebih lanjut, bahwa pikiran (kesadaran) dan otak adalah dua bagian yang berbeda. Secara simultan, penelitian fisika quantum menunjukkan keberadaan alam kedua yang nonmaterial. Jadi, waktu jualah yang mempertemukan ilmuwan Barat dengan istilah konsep mistis Timur: “bahwa suatu kekuatan extrasensory berada dalam kenyataan lain, dan bersinggungan serta berintegrasi dengan dunia fisik”.
 
Dalam fungsinya, ESP berbeda dari indra biasa. Tidak ada tempat yang memerintahkan indra lainnya yang menerima informasi melalui berbagai organ tubuh; dan tidak tergantung pada salah satu dari panca indra. ESP tidak bergantung pada faktor-faktor seperti lokasi geografis, waktu, kepandaian, usia atau pendidikan.
 
ESP mempunyai banyak nama. Pada abad 19 ESP dikenal sebagai “cryptesthesia” yang kemudian dikenal dengan “relesthesia” dan kemudian menjadi “clairvoyance” atau melihat dari jauh (trawang). Adalah Rhine yang menyatukan dengan istilah “general extrasensory perception” (GESP) untuk telepati dan clairvoyance.
 
Lousia E. Rhine mengajukan teori bahwa ESP dimulai dari alam bawah sadar, sebuah gudang penyimpanan ingatan, harapan dan ketakutan. Pada poin ini suatu hubungan dibuat antara dunia obyektif dan pusat pikiran. Seseorang tetap tidak sadar akan hubungan ini hingga atau jika suatu informasi dibawa ke alam sadarnya. Juga, psikiater, Carl G. Jung, mengajukan teori yang sama bahwa pikiran sadar mempunyai akses bawah sadar psychic kepada alam bawah sadar kolektif, tempat penyimpanan yang luas dari kumpulan kebijaksanaan dan pengalaman umat manusia.
 
Satu teori lain memasukkan diskusi dua alam bawah sadar, di mana alam bawah sadar kedua kadang-kadang dinamakan superconsciousness, jiwa, raga bawah sadar, ego transcendent, raga mimpi dan beberapa istilah lain. Argumentasinya berada pada hipotesa bahwa terdapat dua kenyataan, kenyataan fisik dan kenyataan kedua. ESP dapat terjadi jika terdapat penyatuan antara kedua kenyataan. Hal ini terjadi secara jarang hanya ketika batas antara kenyataan telah diputuskan yang tidak sering terjadi karena jika terjadi pikiran bawah sadar akan membanjiri dan meluapi pikiran sadar. Suatu kondisi dimana otak manusia tidak akan dapat bertahan menghadapinya.
 
Ketika mempertimbangkan jenis atau bentuk ESP, mimpi menjadi suatu faktor penting, khususnya dalam hubungan kepada teori dua realitas. Pada dasar ini, mimpi dibedakan dalam 2 kategori : (1) Nyata, jelas dengan gambaran informasi yang diberikan dengan jelas dan intuisi, yang termasuk perasaan samar (gut feeling), ramalan dan tanda-tanda; serta (2) mimpi tidak realistis yang berisi gambaran fantastis dan tanda-tanda. Halusinasi yang meneruskan informasi gambar dan suara juga termasuk. Rhine menyimpulkan bahwa mimpi menjadi pembawa pesan ESP yang efisien karena batas yang meliputi pikiran sadar dalam kondisi yang tertipis.
 
Penelitian juga menemukan bahwa kecenderungan alami ESP pada seorang individu dapat terditorsi oleh anggapan sebelumnya, pikiran dan pengkondisian. Hal yang sama juga dapat dikatakan bahwa pesan ESP yang tidak akurat dapat disebabkan oleh distorsi dan pemblokiran dari pikiran sadar. Tetapi, dalam waktu kritikal seperti kecelakaan dan kematian seorang yang dicintai, pesan ESP terlihat terjadi secara spontan. Hal diteorikan bahwa kemungkinan trauma dan guncangan membuat informasi negative dapat memasuki halangan bawah sadar lebih gampang daripada informasi yang menggembirakan.
 
Terdapat beberapa teori yang berkaitan dengan individu yang memiliki ESP dan bagaimana individu tersebut memiliki kemampuan tersebut. Suatu teori mengatakan bahwa beberapa orang seperti peramal, nabi dan orang suci dilahirkan dengan bakat yang diturunkan dari keluarganya. Teori lain mengatakan bahwa ESP merupakan indra primordial yang telah berkurang dalam masyarakat ketika kebudayaan masyarakat itu berkembang. Dan ada satu teori lain yang mengatakan bahwa ESP adalah indra super yang berkembang di system saraf.
 
Penelitian fisika telah mendukung teori yang mengatakan bahwa setiap orang terlahir dengan kemampuan ESP, walaupun beberapa orang mungkin memiliki kemampuan yang lebih dibanding yang lain. Semua orang mengalami sedikitnya satu pengalaman ESP dalam hidup mereka. Dalam survey yang dipublikasikan pada tahun 1987 oleh University of Chicago National Opinion Research Council, 67 persen dari semua orang Amerika dewasa percaya bahwa mereka mempunyai pengalaman ESP. 11 tahun sebelumnya figurnya hanya 58 persen. Kenaikan ini dipercayai sebagai peningkatan penerimaan kemungkinan ESP di masyarakat.
 
 

R. Achmad Ridwan Sudirjo bukan saja tertarik pada Hypnosis dan hypnotherapy, tetapi juga pada Neuro Linguistic Programming (NLP), dan Emotional Freedom Technique (EFT), dan Transpersonal Hypnosis. Achmad Ridwan juga adalah seorang Registered Emergency Responder, yang menguasai teknik-teknik Basic Life Support dan CPR (Cardio Pulmonary Resusciation), yang dipelajarinya di Emergency First Response dari Amerika.

 





Reddit!Del.icio.us!Facebook!Slashdot!Netscape!Technorati!StumbleUpon!BlogMemes!
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Categories Selection

start Player

The Bands and Fans

Kamis, 17 Januari 2008
  Dear friends.... Aku masih ingin bercerita tentang dunia musik. Kali ini perkenalkan...
Sabtu, 12 Januari 2008
Dear Friends.. Sekarang aku mau memperkenalkan salah satu temanku di dunia musik yaitu BINTANG...
Kamis, 10 Januari 2008
Dear friends.. Apa kabar? Selamat Tahun Baru 2008 dan salam sukses selalu untuk kalian....
Sabtu, 29 Desember 2007
Dear Friends... Kali ini aku ingin memperkenalkan salah satu teman yang akhir-akhir ini rajin...
Kamis, 27 Desember 2007
Dear friends.. Aku dan Dizzie baru saja selesai membuat arrangement untuk lagu terbaru kami...
[+]
  • Increase font size
  • Decrease font size
  • Default font size